Hati-hati Gangguan Pendengaran Bayi yang Tak Terdeteksi ?>

Hati-hati Gangguan Pendengaran Bayi yang Tak Terdeteksi

screenshot_15

Jakarta, Masalah pendengaran dapat berlangsung lantaran beragam jenis hal. Kerapkali masalah pendengaran mulai sejak bayi tidak terdeteksi serta baru di ketahui waktu anak berumur kian lebih setahun.

Seperti pengalaman Illian Deta Arta Sari, anak ketiganya baru di ketahui alami masalah pendengaran waktu berumur 2, 5 th.. Belum dapatnya si kecil berbicara awalnya cuma disangka keterlambatan bicara seperti yang dihadapi anak keduanya.

Menurut wanita yang akrab disapa Illin ini, sesungguhnya si kecil yang benama Aziza ini ceriwis. Tujuannya ceriwis yaitu suka keluarkan bunyi-bunyi dari mulutnya. Cuma saja kata-katanya tanpa ada arti, serupa ocehan yang kerap dikerjakan bayi.

” Bila di ajak bicara dia lihat mata kita. Ngangguk-angguk, senyum-senyum, seakan ngerti. Bila ada musik juga dia turut joget-joget. Namun ini bukanlah lantaran dia mendengar, tetapi mungkin saja lantaran dia mengkopi yang dikerjakan kakak-kakaknya, ” papar Illin dalam pembicaraan dengan detikHealth, Kamis (22/9/2016).

Lantaran Aziza mempraktikkan pengkopiannya di waktu pas, Illin serta suaminya sekalipun tak menganggap ada yang salah dengan pendengaran Aziza. Bahkan juga Aziza juga dapat lakukan perintah-perintah simpel.

” Umpamanya bila disodori gelas lantas ambillah minum. Disodori sampah, dibuang ke tempat sampah, ” tambah Illin.

Karenanya demikian tahu Aziza cuma dapat mendengar nada dengan level kian lebih 110 desibel, hati Illin saat itu juga roboh. Sampai kini dia tak sadar putrinya hidup dalam keheningan. Cuma nada sekeras petir, mesin pengebor jalan serta pesawat saja yang dapat didengar Aziza.

” Sedih banget lihatnya. Ini dapat yang dihadapi ibu-ibu lain, bila anak sakit, bukan hanya anaknya saja yang sakit namun juga ibunya, ” lebih Aziza.

Saat ini Illin mulai dapat terima keadaan Aziza. Tetapi dia menginginkan memberi yang paling baik untuk putri kecilnya. Dia tidak ingin keadaan ini bikin Aziza alami momen yg tidak mengasyikkan dalam kehidupannya. Karenanya ditetapkan untuk memberi implan koklea untuk Aziza.

Karenanya Illin yang saat ini sebagai ibu rumah-tangga serta suaminya yang pegawai negeri sipil (PNS) mesti mencari penambahan dana untuk menghimpun Rp 240-600 juta untuk beli peralatan implan koklea. Rekan-temannya yang bersimpati juga membatu dengan menebar pesan donasi.

” Hikmahnya buat saya ya mungkin saja saya tengah diuji kesabarannya. Ini dapat bikin saya jadi lebih sayang sama anak-anak saya, ” papar Illin.

Mulai sejak tahu keadaan anaknya, Illin banyak berdiskusi serta berjumpa dengan beberapa orang yang miliki pengalaman sama. Dari situ dia paham hearing loss pda balita beberapa macam penyebabnya ada yang lantaran masalah rambut koklea, virus meningitis serta kecelakaan.

Anak peluang terlahir tunarungu bila ketika hamil sang ibu terserang virus TORCH, rubella (campak), herpes serta sifilis. Bayi yang terlahir prematur serta kurang oksigen juga berisiko tunarungu.

” Bila diluar negeri bayi baru lahir ada tes BERA untuk tahu ada permasalahan pendengaran atau tak. Bila di Indonesia masihlah tidak sering ya. Yang saya baca, yang tahu banyak yang agak terlambat, di umur sekitaran 2 th., ” papar bekas aktivis Indonesia Corruption Watch ini.

Eka K. Hikmat, S. Psi, terapis AV (Auditory-Verbal) dari Yayasan Tempat tinggal Siput Indonesia sekian waktu lalu mengingatkan anak dengan masalah dengar butuh secepat-cepatnya menggunakan alat bantu lantaran potensi kekuatan dengar anak ada ‘expired date’ atau saat kadaluwarsanya. Ini lantaran saraf-saraf otak pendengaran tak selama-lamanya plastis, dimana semakin lama semakin kaku.

” Saat masihlah dibawah 3, 5 th., itu plastis sekali, fleksibel sekali. Demikian melalui dari itu bakal mulai kaku, terlebih sesudah diatas tujuh th.. Jadi anak lebih susah juga untuk diajari mendengar serta bicara walau telah gunakan alat. Bukanlah mustahil, namun lebih susah, ” jelas Eka sekian waktu lalu.

Karenanya makin dipending penggunaan alat bantu mendengarnya, jadi kekuatan bhs serta berkomunikasi anak dengan masalah dengar mungkin saja semakin ketinggalan. Potensi untuk dapat terhubung kekuatan mainstream seperti yang dipunyai anak-anak biasanya akan semakin terbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *